Showing posts with label life lesson. Show all posts
Showing posts with label life lesson. Show all posts

Sunday, November 11, 2012

Fakers

I hate them.

I keep on my mind that they have a bright side, a nice side, i do believe that, but it's still hard to believe them and simply make it like normal, i still have a hate feeling toward them, and i dont know why i can't throw it away.

And the worst part is, they keep doing on the same things that i hated on the first place. Let's say that everything they do, i will always see the flaw.

I read a quote that's really nice and fit them well : “Those who try to be everything to everybody end up being nothing to anyone.”

Why you have to try so hard to be somebody that you're not?! It's freaking annoying! Not everyone will like you, u know.. You try to be nice and lovely and helpful and everything, try to be the person that we can count, try to do something more and more and more, when we don't need it... Have you ever heard that less is more?

Peace. :)

Sunday, December 26, 2010

Sepakbola Indonesia

Well,, gonna write in Indonesian for this post.

So, siapa yang nonton final leg pertama Malaysia vs Indonesia di Stadion Bukit Jalil Malaysia?!? I believe almost every Indonesian watched it, supported our team, prayed for their winning. Tapi sayang sekaliiii,, Indonesia baru aja kalah 3-0 dari Malaysia, seteru besarnya. Padahal pas penyisihan group di GBK Indonesia, malaysia digasak 5-1 sama Indonesia. Well, pukulan telak tapi Malaysia bisa bangkit. Mereka yakin bisa memenangkan laga kandang di Malaysia.

Now what about Indonesia?? Dengan segala dukungan rakyat Indonesia plus optimisme tinggi, mereka bertandang ke malaysia, ingin membuktikan bahwa gak pernah terkalahkan dalam 5 laga kandang itu bisa menjadi modal.

Saya sendiri gak pernah nonton Liga liga Indonesia, walaupun saya fans berat Manchester United. Menurut saya permainannya kurang menarik aja, atau mungkin emang beda kualitas dan beda skill lah ya sama sepakbola Inggris. Tapi kalo udah membawa nama Indonesia alias timnas, entah kenapa saya lalu menjadi nasionalis.. Hahaha.. Gak cuma sepakbola sih, sejujurnya dari bidang apapun asal mereka membawa nama Indonesia pasti saya langsung jadi nasionalis dan excited :D

Tapi hari ini sejujurnya saya kecewa juga sih atas kekalahan mereka.. Walaupun saya berharap mereka tetep menang dan jadi juara AFF 2010. Gamenya jadi super panas, ditambah supporter yg panas juga.. Yg mulai gak beretika karena pakai laser2 buat distract pemaen Indonesia. Yg akhirnya pun memancing pemaen Indonesia buat protes di menit 54. Dan setelah kejadian pertandingan yg berhenti sementara krn masalah laser, Indonesia langsung kebobolan 3 goal dlm 20 menit. Memang tidak bisa menyalahkan laser, MENURUT SAYA itu karena mental timnas aja yang kurang oke. Dan permainan mereka pun emang sangat ga maksimal, keliatan gugup. Yang utama sih defense yg super duper payah.. Segampang itu pemain malaysia masuk ke kotak dan nyetak goal, sekali lagi 3 goal dalam 20 menit saudara2... Kalo mau defense ya yg sepenuh hati, lari juga ampe mati, jgn setengah2.. Sayang di tipi ga ada perhitungan ball possession, karena kalo dilihat, jelas banget malaysia punya jauh lebih besar possession di game tadi. 60-40 mungkin. *sok pakar sepakbola* hehehe... Pengaruh karena main di kandang malaysia kah? Tentunya kita gak mau donk timnas cuma dicap jago kandang doank? Saya sih cuma bisa tetep mendukung timnas, berdoa semoga permainan mereka di leg 2 di GBK bisa jadi jauh lebih baik.. Back2 ga bermain tanpa koordinasi gitu, serangan juga bisa lebih tajam. Dan si kiper jangan kepedean sukanya maju2 ke depan ninggalin gawang. *peace*

Di luar permainan timnas sendiri, supporter Indonesia emang patut diwaspadai, krn beberapa pertandingan terakhir di GBK pun mereka cukup mengerikan. Tidak berbudaya, tidak beretika, dan identik dgn rusuh!! Well, mayoritas aja sih.. Tapi mayoritas dari 80000 orang tuh kan banyak!! Kita sibuk ngomongin laser malaysia, bukannya supporter Indonesia juga maen laser pas timnas lawan Philippine?? Jelas2 ada foto beredar di twitter yg menunjukkan kelakuan supporter Indo itu. Belom lagi petasan ato apa lah itu, sama aja di Indonesia jg masi lolos tuh yg pada duduk di tribun atas. Selama ini Indonesia masih menang di GBK, gimana kalo besok kalah?? *amit2* Tapi saya ga yakin kericuhan jenis apa yg bakalan terjadi di GBK. Semoga aja supporter disana bisa lebih memakai otak dan gak asal rusuh, setelah berkaca dari supporter Malaysia hari ini. Gak seharusnya kita marah2 dan mencaci maki kalo kita sendiri masih kayak gitu kan??

Belom lagi masalah perusakan GBK sama calon penonton final leg 2.. That's so so pity.. Siapa yg harus disalahkan?? Jelas faktor ketidaksabaran dari supporter itu emang berpengaruh. Tapi siapa yg bisa sabar sih kalo udah ngantri dari tengah malem sampe siang dan masi blom dilayanin? Yang ada pihak panitia cuma ngasih janji2 bullshit. Saya jd inget pengalaman saya di rumah makan, saya nunggu selama 1 jam lebih dan akhirnya makanan yg saya pesan dinyatakan habis. Waktu itu saya gondok banget dan terus ngumpat2 lah.. Well, jadi walaupun saya ga merasakan turun langsung di GBK saya juga bisa mengira2 rasanya lah.. Mungkin kalo saya ada disana saya juga udah triak marah2, walaupun ga anarkis sampe ngerusakin kali ya, ga mampu.. Dan ga punya nyali.. Dan masih punya malu.. Hahaha.. Yang jelas itu panitia perlu kerja yg bener lah (saya ga nyebut PSSI loo), mulai dari sistem pemesanan tiketnya, keamanannya, dll. Gimana mau dilirik dunia buat jadi tuan rumah World Cup kalo masalah pemesanan tiket aja jadi masalah besar yg ga bisa diatasin (kalo yg ini otomatis PSSI). Dan parahnya udah berkali2 terjadi.. Gak ada perbaikan, yg ada malah ngeruk dengan naikin harga tiket. Shame on you, PSSI..

I'm just sharing my thoughts anyway.. Peace out!! :D

Berjuanglah timnas buat leg 2 besok!! Kalian belum kalah!! Piala masih did depan mata!! Impossible is NOTHING!! Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku!! Go go sepakbola Indonesia!!

Xoxo :)
asn

Saturday, December 4, 2010

My Spirituality Zone

I’m a Christian. I believe in God.

But, i barely go to the church. And yeah, i’m gonna fix this habit. Besides, sometimes i think that go to the church doesnt mean that u are just better than others who dont. And this is true. Our daily habit, like attitude, words, are just more describing our spirituality to God. How often you are cursing? How often are you doing a bad thing? How evil are you?

I do believe that every single people has their own beliefs. Despite the fact that they choose to go to the church every week or not. We have to respect their decision. I have a friend who always gives me encouraging words everyday, and he gives a service in his church. I said this is good, because he gives me a good effect. I just become more positive. You know what, you need to choose where to put yourself into, because your environment matters so much to your self.

For me, though I dont go to the church weekly, I keep believing that God is exist. That He’s with me everytime, watching me and protecting me. And, I do believe that He will come to the earth for the 2nd time and take us the children of God. I wanna be one of them, really. I dont want to be left behind on earth.  My scareness level is quite high for this thing. Does it require me to go to the church every week??

Well, but sometimes I have my doubt too. I’m questioning God why I kept failing on my interview, for example. It was 4 times!! But i’m faithful that  God has a perfect plan for me, and that I need to wait for His perfect timing. Maybe that was my own mistake, I wasnt ready enough for it. But God must have involved on that too right? I feel bad, because I always kept asking and asking but I did nothing to worship Him. Maybe that’s why I didnt get what I want. Arghhh.. This is insane, like talking to 2 different sides in myself.

But have you ever heard the sentence, that He gives us what we need, not what we want.

I really want to give some service to God, but I just havent got the call yet. And I dont find a perfect church that is comfortable for me. I remember when I was a child, I gave Him a service, praise and worship dances. And believe me i’ve ever being a worship leader on teenage service. Hahaha!! I was really enjoying all those service things, though it meant that i had to go to the church 5 times in a week. You know, praying every week. Fellowship with all people who also gave the service once a month. And when i gave service at the 1st schedule, i had to standby in church from 6 am. Awesome, huh? But i did enjoy it!! And i really miss that time :)

I’m trying my best to get into that track again, though it’s pretty hard. Too many temptations to stay away from Him. Lucky i have some friends that keep supporting me to keep faith on Jesus :)

God bless y’all!!

jesus_w_children_600

xoxo,

asn

Thursday, October 7, 2010

Jangan “NGAMBEK” Berkepanjangan

In the middle of my insomnia last night, a friend gave me a link, great and touching story, made me cry a lot. Cant wait to share with you all :)

Ini adalah cerita sebenarnya (diceritakan oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang)

Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga. Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini, setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama.

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.

Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata : “Mari,kita jemput nenek di kampung”.

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung  tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami : “Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?” Aku menjelaskannya kepada nenek : “Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira. “Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa : “Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga.”

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan, dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil berkata : “Putriku, kan kamu bisa berbohong.Jangan katakan harga yang sebenarnya.” Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya ; dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masukke kamar sambil membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah. “Apa salahku?” Dia melotot sambil berkata : “Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?”

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata : “Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?” sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata : “Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi. “Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh……suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga  meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata : “Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter. “Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi…..mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam, aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya. Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung. “Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati : “Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?”

Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian. Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu,jika kami tidak bertengkar, jika…………dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah cafĂ©, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak…mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi………, semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya : “Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya”. Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar. Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya. “Lu di, kamu hamil?” Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab : “Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi”. Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badanya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.

Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata : “Maafkan aku, maafkan aku”. Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa…….., itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tanganya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya………aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…………Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami. “Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah.

“Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai”.

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku. “Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannyapada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya”.

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata : “Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya”. Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum…………..anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tanganya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata………………..

Teman-teman terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini : “Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan : Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.

 

xoxo,

Used VS Loved

While a man was polishing his new car, his 4 years old son picked up stone and scratched lines on the side of the car. In anger, the man took the child's hand and hit it many times; not realizing he was using a wrench. At the hospital, the child lost all his fingers due to multiple fractures.

When the child saw his father with painful eyes he asked, 'Dad when will my fingers grow back?' The man was so hurt and speechless; he went back to his car and kicked it a lot of times. Devastated by his own actions…….sitting in front of that car he looked at the scratches; the child had written 'LOVE YOU DAD'.

The next day that man committed suicide. . . Anger and Love have no limits; choose the latter to have a beautiful, lovely life…..

Things are to be used and people are to be loved, But the problem in today's world is that, People are used and things are loved…

During this year, let's be careful to keep this thought in mind: Things are to be used, but People are to be loved … Be yourself……This is the only day we HAVE.

Watch your thoughts; they become words. Watch your words; they become actions. Watch your actions; they become habits. Watch your habits they become character; Watch your character; it becomes your destiny.
_______________________________________________
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

xoxo,

Jangan Sakiti Ibumu

I don't know why, but mother's issues always get my biggest concern. Maybe because I have a single parents, only my mom and I feel that she's everything to me. We don't really close, I don't tell everything to my mom, and sometimes we argue each other. But deep inside I love her always. This is a great story again, made me cry again :')

Suatu ketika, seorang anak mendatangi ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.Kemudian dia memberikan selembar kertas kepada sang ibu, sang ibu segera membersihkan tangan lalu menerima kertas yang diberikan oleh si anak dan membacanya :

Ongkos upah membantu ibu:
• Membantu Pergi Ke Warung : Rp. 20.000
• Menjaga adik : Rp. 20.000
• Membuang sampah : Rp. 5.000
• Membereskan Tempat Tidur : Rp. 10.000
• menyiram bunga : Rp. 15.000
• Menyapu Halaman : Rp. 15.000

• Jumlah : Rp. 85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu dibelakang kertas yang sama.

• Ongkos mengandungmu selama 9 bulan : GRATIS
• Ongkos berjaga malam karena menjagamu : GRATIS
• Ongkos air mata yang menetes karenamu : GRATIS
• Ongkos Khawatir karena memikirkan keadaanmu : GRATIS
• Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu : GRATIS

• Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku : GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah sang ibu, memeluknya dan berkata, "Saya Sayang Ibu".Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang ditulisnya: "Telah Dibayar"

Kenanglah Ibu yang menyayangimu

Untuk Ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi…

Ingatkah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu dapat tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu

Ingatkah engkau ketika jemari ibumu mengusap lembut kepalamu??

Dan Ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit??

Bahagiakan lah ibumu yang selalu menantikan dan mendoakanmu..

Kembalilah memohon maaf kepada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu..

Jangan biarkan engkau kehilangan saat saat yang akan kau rindukan di masa yang akan datang ketika ibumu telah tiada…

Ketika tidak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut mu…
____________________________________
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

xoxo,

Life Lesson

Hari ini kau mengeluh bahwa makananmu kurang enak

Seorang anak memandang orang yang lalu lalang. Berharap ada yang mau disemir sepatunya. Demi beberapa suap nasi

Hari ini kau mengeluh. Di balik kenyamanan mobil, alunan musik dan dinginnya AC. Bahwa kemacetan lalu lintas seakan membuatmu gila

Orang-orang berlarian mengejar buskota. Berdesak-desakan, peluh mengalir dan kepengapan. Pengamen silih berganti mencoba mencari rejeki

Hari ini kau mengeluh. Bahwa rumahmu terlalu kecil dan jauh

Seorang gelandangan menggelar koran yang lusuh. Lalu merebahkan dirinya yang lelah. Beratapkan langit dengan sejuta bintang. Berharap hujan tak singgah malam ini

Tidakkah kau lelah mengeluh?
________________________________________________
Today, you're complaining that your food isn't good enough.

A child stares at people, wishing that someone will stop to get a shoes polish. For a bite of rice.

Today, you're complaining, inside your comfortable car, music, and AC, that the traffic jams make you almost crazy.

People run chasing a bus. Jostling, sweats flowing, fug. Street singers try finding a fortune.

Today you're complaining, that your house is too small and too far.

A homeless people puts a tattered newspaper, and lays his tired self down. With a roof of sky and stars. Hoping the rain doesn't come.

Don't you tired of complaining??
___________________________________
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

 

xoxo,