Showing posts with label champagne. Show all posts
Showing posts with label champagne. Show all posts

Monday, September 27, 2010

Champagne Girl (Part 4)

Sore itu aku dan teman-teman kantor janjian untuk minum di bar setelah pulang kantor. Aku sudah mendapatkan pinjaman mobil dari kantor. Sejak saat itu aku melarang Chris untuk menjemputku, dan secara otomatis intensitas pertemuan kami pun semakin jarang. Walaupun dia masih rajin telepon dan BBm aku. Tapi aku mulai berusaha menjauhkan diri dari Chris, aku tidak ingin semua menjadi terlambat karena sikap tidak tegasku terhadap Chris.

Kami melepas penat dengan sedikit minuman beralkohol, kebetulan besok weekend. Namun kali ini aku tidak salah minum, aku hanya memesan soda. Tidak boleh ada kejadian aku mabuk dan tidak terkendali. Aku melihat sosok pria berjalan masuk ke bar. Dia duduk membelakangi rombongan kami di meja bartender. Aku mengenal sosok itu, tampak seperti Andrew. Setelah kami selesai minum-minum, aku memberanikan diri mendekati sosok pria seperti Andrew itu, pamit ceritanya.

“Andrew,” panggilku.

Pria itu menengadah, masih dalam posisi yang sama dengan gelas-gelas di hadapannya. “Hei, Carly.”

Jadi benar itu Andrew, mabuk. Aku tidak pernah melihat Andrew mabuk. Yah memang tidak, pasti dia yang melihatku mabuk. Mengapa Andrew seperti ini? Masalah apa yang membuatnya begini?

“Kamu tidak mabuk lagi kan?” tanya Andrew sambil tersenyum.

“Aku rasa kamu yang lagi mabuk. Aku baru mau pamitan pulang.”

No, jangan.” Andrew menahanku dan memegang tanganku. “Temenin aku ngobrol, Carly. Aku rindu perbincangan kita yang dulu.”

Aku dapat merasakan pipiku mulai memanas akibat genggaman tangannya. Tangan yang besar dan badan yang kokoh. Namun jiwa yang sedang lelah. Aku pun tinggal di bar lebih lama untuk berbincang-bincang dengan Andrew. Andrew tetap menenggak minumannya, sedangkan aku masih meminum soda.

It’s Ally. Ally yang menjadi beban di pikiran Andrew saat ini. Andrew bercerita tentang sikap Ally yang mulai berubah dan bahwa pernikahan mereka terancam batal. Ternyata Andrew sangat mencintai Ally, nggak mungkin bagiku untuk berada di antara mereka. Sikap baik Andrew selama ini memang baik sebatas bos dan bawahannya saja. Andrew bicara melantur. Aku pun mengajaknya pulang dan memasukkan Andrew secara paksa ke dalam mobilku. Bahwa menyetir saja dia nggak mampu, gimana bisa aku biarkan dia pulang sendiri. Tubuhnya berat sekali. Kuarahkan mobilku ke apartement Andrew. Kupapah tubuhnya ke dalam lift. Andrew masih meracau soal Ally, sepanjang jalan sampai sekarang. Aku menghubungi Chris, akhirnya, memintanya menunggu di luar lift untuk menjemput Andrew. Andrew terjatuh. Aku berusaha memapahnya, memeluknya untuk menahannya berdiri. Tubuh kami menempel. Andrew menatapku, menggumamkan namaku, kemudian menggumamkan nama Ally, dan dalam sekejap menciumku. Ciuman ini dalam dan sedikit keras. Dia melumat bibirku, berusaha memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Aku tidak bisa menghindar. Tangannya memelukku dengan sangat kuat.

Pintu lift terbuka. Kulihat Chris berdiri menatap kami. Kujauhkan tubuh Andrew, berusaha melepaskan pelukannya. Masih tidak bisa. Chris menarik Andrew dengan paksa. Kemudian memapahnya ke kamar. Aku mengambil barang-barang Andrew yang terjatuh dan mengikuti ke kamar. Aku tidak bersuara, Chris juga tidak. Dan Andrew sudah resmi tertidur saat ini, gumamannya sudah berhenti. Kami keluar dari kamar tidur Andrew.

“Kamu nggak apa-apa?” Chris akhirnya memulai pembicaraan.

“Aku nggak apa-apa. Andrew yang kenapa-kenapa. Dia stress.”

“Kamu jatuh cinta sama dia?”

“Chris? Aku nggak... Aku nggak pernah jatuh cinta sama Andrew, aku cuma mengaguminya. That’s all.” Aku berusaha menjelaskan sesuatu. Ini aneh, aku tidak mau Chris berpikir aku menyukai Andrew.

“Terus kenapa selama ini kamu nggak pernah mau ketemu Andrew? Dan bersikap aneh di hadapannya.”

“Chris, aku nggak mau bicarain tentang itu.”

You promise.”

Aku tidak bisa mengelak, kali ini kujawab pertanyaan Chris. Kuceritakan semua yang kuingat tentang malam di Bali itu. Ciuman itu. Ciuman pertamaku dengan bosku, yang ternyata sangat mencintai tunangannya. Serta alasanku untuk mengakhiri karir di Maxcom Enterprise.

That’s why i cant meet him. Or meet you.” kataku mengakhiri.

Chris tertawa terbahak-bahak. Aku mengamati keanehannya. Kemudian dia masuk ke dalam kamar dan memintaku mengikutinya. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Itu syal, syalku, yang aku cari kemana-mana.

“Nih, kayaknya ini punyamu.” Chris memberikan syal itu padaku.

“Kenapa bisa ada di kamu?” aku masih menatap Chris bertanya-tanya.

“Jelas kan, kamu ninggalin syalmu di mobilku. Waktu kamu mabuk itu.”

“Tapi kamu nggak pernah bilang sebelumnya!” wajahku memerah, malu. Jadi Chris juga melihatku mabuk. Jadi dia tahu aku sudah mencium kakaknya. “Terus buat apa kamu pura-pura nggak tahu atas apa yang terjadi sama aku dan Andrew di Bali?!”

Chris diam sejenak. “Sebenarnya aku pengen kamu tahu sendiri Carly, tapi kayaknya nggak ada gunanya lagi nutup-nutupin sekarang. Aku nggak mau kamu ngejauhin aku gara-gara Andrew.” Chris menggenggam tanganku. Aku menariknya cepat. Chris menggenggam lagi. Kencang. Sudah mengantisipasi apabila aku menariknya lagi. Aku masih tidak mengerti apa maksudnya. Chris menatapku dalam dan mengambil ancang-ancang untuk menciumku. Aku tidak kuasa menghindar, seakan aku sudah terpaku pada daya tariknya. Aku memejamkan mataku dan mengikuti kemana bibirnya menuntunku. Ciuman itu hangat dan penuh hasrat. Aku membalas seluruh lumatannya. Chris memeluk tubuhku kencang. Chris menarikku ke ranjangnya, dan posisi kami masih sama, masih berciuman dengan irama.

Stop. Stop it.” Akhirnya aku berhasil menguasai diri, kembali ke dunia nyata. Ciuman itu membuat seluruh wajahku panas, jantungku berdegup kencang, dan perutku bergejolak.

Chris memandangku tersenyum. Badannya masih berada di atasku. “Do you remember something?” tanyanya penuh senyum kemenangan. Aku masih menatapnya. Dia mulai menciumiku lagi, dan aku, membalas ciumannya lagi. Oh Tuhan, kapan kami bisa bicara.

“Oke, Chris. Cukup.” kali ini aku benar-benar mendorong tubuh Chris dan aku menjauhkan diri dari dekapan Chris. “This is serious. Inget apa? Aku nggak inget apa-apa!”

“Carly, kamu nih lambat banget sih. Masa aku harus nawarin bibirku buat kamu cium lagi?” Chris masih tertawa senang.

I’m serious. You have to tell me right now!” aku mulai tidak sabar, tapi masih berusaha mengingat-ingat apa yang aku tidak ingat. Tapi nihil, aku tidak berhasil mengingat apapun.

“Carly, kamu nggak pernah mencium Andrew. Oke pernah, tadi di lift. Coba Andrew nggak mabuk, udah aku pukul dia.”

“Jangan ngalihin pembicaraan. Terus siapa yang aku cium? Kamu?”

Chris tersenyum kembali. Oke, kayaknya pertanyaanku barusan tepat sasaran. Chris menaikkan alisnya, masih tersenyum kepadaku.

“Chris? Was it? With you?”

Yes. It was me. And after that, my whole life was full of you.”

Aku mau marah, tapi tidak bisa. Jadi selama ini semuanya masih kebodohanku. Selama ini Andrew nggak pernah mengatakan apapun karena memang gak terjadi apa-apa di antara kita malam itu.

“Waktu itu, kamu membalas ciumanku ya?” tanyaku malu.

“Uhuh, just like this.” Chris mencium aku lagi. Kali ini aku membiarkannya bergerilya. Bibir hangat Chris menyapu bibirku. “Jangan sampai kamu mabuk lagi ya, Carly.” katanya di sela-sela ciuman panas kami. Kami pun tertawa. Semuanya terasa masuk akal, perhatian Chris dan pengejarannya selama ini ternyata memang dimulai dari malam itu. Malam tak terlupakan akibat champagne. ©

________________________________________________

xoxo,

Sunday, September 26, 2010

Champagne Girl (Part 3)

Hampir jam makan siang. Aku berbisik-bisik dengan Lauren yang duduk di hadapanku. “We need to talk. There’s something weird. And it will be me and you only this time, okay?” Kami makan siang dan bercakap-cakap seputar satu topik, Chris. Of course, who else?!

Are you tired of taking me home, Lau?”

What? No, of course not.” Lauren tertawa. Dia pikir aku lagi bercanda ya.

“Terus kenapa setiap hari harus Chris yang ada di sana?!” Lauren masih tertawa lagi dan kali ini lebih kencang. ”Hah! I know it was you!” Aku menendang kaki Lauren di bawah meja makan. Kali ini dia memaksakan diri untuk berhenti tertawa.

Sorry, honey. It’s just Chris’s request.”

“Yeah, but why?! Kenapa dia harus melakukan hal seperti itu sama aku? Kenapa dia nggak berhenti ngejar aku? And now picking me up everyday? It’s just too much, Lau.”

“He likes you. Simple.” Lauren tersenyum dan kali ini lebih serius. “Carly, aku kenal Chris sangat baik. He’s a good guy. You’ll like him too.”

“I like him. But hell no I will love him. He’s way younger than me!”

Lauren tertawa lagi. “Tapi kelakuannya gentle banget kan, admit it. Paling nggak dia tidak kekanak-kanakan sedikitpun dan sangat bertanggung jawab.”

“Tapi aku nggak bisa berhubungan sama orang yang berhubungan dekat sama Andrew. Nggak mungkin aku menampakkan diri di hadapannya.”

Oh, forget it. He never talked about it. Maybe he didn’t remember anything.”

“I wish.”

“I’m serious. I tell you, selama ini semuanya adalah permintaan Chris. Dia memohon sama aku untuk ngasih tahu detail tentang kamu, Carl. Aku nggak bisa nolak. Yeah, I’m helping him to get you.”

“Sinting.”

“Pertimbangin lah, Carl. Gak ada yang salah dengan umurnya. Cuma beda dua tahun juga kan sama kamu. Not a big deal lah.”

Aku keluar ke pintu utama. Kosong. Tidak ada seringaian wajah Chris yang menungguku. Tidak pernah terjadi sebelumnya dan dia juga tidak mengabariku apapun. No calls, no BBM. Aku mengetik pesan singkat untuknya tapi tidak ada tanda pesan itu terbaca. Lauren menawarkan diri mengantarku pulang, tapi aku menolaknya.

“Chris, hallo?”

“Uhm, hei, Carly.” Chris menggumam di seberang telepon. Suaranya tidak jelas.

“Chris, you hear me? Where are you?”

“Aku di rumah, Carly. I just had a lil’ accident.”

“What?! Are you okay?”

“Yeah, uhm i mean, i’m sleepy. Pengaruh obat bius tadi. Jadi aku ketiduran setelah pulang dari rumah sakit.” Chris terdiam. Aku juga terdiam. “Oh, crap!” Chris memekik. “I forgot to pick you! Carly, sorry.” Nadanya memohon.

Shut up, Chris! Think about yourself! I can ride a taxi! Idiot!” Aku marah dan menutup telepon. Tunggu, kenapa aku harus marah?

Aku mencegat taksi dan berjalan menuju apartemen. Tiba-tiba aku mengkhawatirkan keadaan Chris. Aneh, tapi aku cemas dengan kondisinya sekarang. Tanpa pikir panjang aku menyuruh taksi itu memutar arah ke apartemen Chris. Cukup jauh dari apartemenku. Semoga aku tidak bertemu Andrew.

Aku menekan bel di depan pintu kamar apartemen Chris. Cukup lama sampai akhirnya Chris membuka pintu. Tangan kirinya digips. Beberapa luka di dahi dan kakinya. Aku agak kaget melihat keadaannya. Ternyata cukup parah walaupun masih bisa berjalan.

“Carly?” Chris sama kagetnya melihatku. Kami saling menatap, “Masuklah” lanjutnya.

You okay?” Chris mengangguk. Dalam sekejap aku langsung memeluknya.

“Sorry, aku nggak bisa jemput kamu.”

Aku melepaskan pelukanku dan mulai meracau, “You idiot! Look at your condition! Kenapa yang kamu pikirin malah jemput aku sih?!” teriakku setengah marah.

Kali ini dia yang meraihku dan memelukku. “Aku nggak apa-apa. I’m good.” katanya sambil membelai-belai kepalaku. Aku memeluknya semakin erat. “Uhm, Carly, tanganku...”

Aku melepaskannya, “Ooops, sorry...” Kami pun tertawa bersama.

“Kamu butuh makan, Chris. Ada sesuatu disini atau kamu mau delivery?” tanyaku sambil membuka lemari-lemari di dapur.

“Cuma ada mie instan sama telur. Bikinin buat aku yah?”

Aku menghela nafas dan tersenyum kecil. “Oke, tapi bikinnya tiga bungkus yah? Buat berdua.” kataku meringis. Aku kelaparan juga.

Chris tertawa terbahak-bahak. “Everything, Carly. Aku suka selera makanmu.

Jadi Chris mengalami kecelakaan waktu mau berangkat ke kampus. Ngebut dengan motor balapnya, sungguh cerdas. Kepala agak terbentur, tangan kiri retak, dan kaki penuh luka. Kami menghabiskan malam itu dengan berbincang-bincang. Percakapan ringan namun cerdas.

“Chris, udah malam. Aku harus balik.”

No, aku nggak akan membiarkan kamu pulang sendiri. Tunggu Andrew bentar lagi pulang, biar dia nganterin kamu.”

Aku terkejut. “Nggak bisa, aku harus pulang sekarang. Bye, Chris.” Aku meluncur keluar dari apartemen itu. Aku tidak bisa membayangkan bila aku harus bertemu Andrew. Aku mencari cara supaya aku tidak bertemu Andrew. Aku menjauhi pintu utama masuk ke kawasan apartemen. Berjalan sejauh mungkin sampai akhirnya menemukan taksi. Aku pulang, kelelahan. Lelah karena pikiran. Pikiran pertemuan dengan Andrew kembali.

Ponselku berbunyi singkat, nada BBM. Pesan dari Chris.

Thanks for today :)

Kubalas pesan singkat itu.

Your welcome. Take care. Dont forget to take your medicines.

BBm kembali berbunyi.

Yes, ma’am. Hati-hati Carly. Good night. I’m full with your noodles and ...

And??? Aku membalas pesan itu, singkat.

Your presence.

Aku tidak membalas pesan itu lagi. Tapi seharusnya Chris tahu kalau aku sudah membaca balasannya. Sepertinya aku sudah melakukan hal di luar kendali dengan datang ke apartemennya, dan memeluknya. Dua kali! Tunggu, sekali, yang kedua itu kan dia yang memelukku! Dasar Chris, mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Bel pintu apartemenku berbunyi. Berkali-kali. Kubuka pintu dan kulihat Chris berdiri di ambang pintu. Tampan dengan setelan jasnya.

I told you to come at 11, dude.”

“Yeah, but I don’t wanna be late. And I just can’t wait to see you.” Chris menjawab ringan, sambil tersenyum.

“Diam di sini dan biarkan aku bersiap-siap. Make yourself like home.”

Jadi kali ini aku mengenakan gaun berwarna cream yang jatuh di atas lutut, dengan potongan dada agak rendah, dan sentuhan perhiasan di atasnya. Cantik. Kubiarkan rambut panjangku terurai lurus. Kukenakan makeup tipis dan lipstick berwarna nude.

I’m ready. Let’s go!”

Chris terpana menatapku. “Wow, beautiful, as usual.”

Kami tiba di Quarkey Restaurant, tempat acara pertunangan ini diadakan. Tidak terlalu banyak tamu, sepertinya memang hanya dikhususkan bagi keluarga dan teman-teman dekat. Aku memeluk Lauren dan mengecup pipinya. Kemudian Ron, memeluknya. Kemudian di sebelah Ron kulihat ada Andrew. Aku kaget, begitu pula dirinya. Andrew sendiri. Tidak ada Ally di sekitarnya. Kulihat berkeliling dan tidak ada Ally dimanapun. Andrew tampak menggoda, seperti biasa. Setelan jas rapinya tetap menempel pada badan tegapnya, pria yang sempurna.

“Carl, aku ambilin minum yah?” suara Chris membuyarkan seluruh lamunanku.

Kualihkan tatapan dari wajah Andrew. Sepertinya semua orang sadar bahwa aku dan Andrew saling bertatapan tanpa suara, lama. Akhirnya setelah dapat menguasai diri, aku pergi ke tempat minuman bersama Chris.

“Udah berapa lama kamu nggak ketemu Andrew?” tanya Chris memulai pembicaraan.

“Lama, sejak aku keluar dari Maxcom.”

“Kenapa kamu selalu menghindar dari Andrew sih?”

You know Chris, i don’t want to talk about it now.”

Aku melihat Andrew berjalan ke arah kami, masih sendiri. Aku meyakinkan diri untuk tidak tampak bodoh di hadapannya. Dan tidak salah bicara.

“Carly, you look great.”

“Thanks. You too, Andrew. Uhm, maksudku Pak.”

Andrew tertawa. Masih dengan senyumnya yang super memikat itu. Dan setiap kali kulihat bibirnya, yang kuingat adalah seluruh kejadian memalukan di malam itu. “Jangan panggil Pak. I’m not your boss anymore.”

Aku tersenyum. Berarti aku boleh menjalin hubungan dengannya dong, secara dia bukan lagi bosku. Ah, pikiran bodoh apa lagi ini?

“Jadi, Chris udah berhasil mendapatkanmu?” tanya Andrew tiba-tiba.

Aku menatap Chris, tajam. Kutatap Andrew dan kulihat wajahnya menunggu jawabanku.

Shut up, Drew.” Chris menyenggol lengan Andrew.

Mereka saling tertawa dan mulai melempar cela-celaan. Aku ikut tertawa namun pikiranku sedang menelaah arti perkataan Andrew. Jadi, Andrew selama ini tahu kalau Chris mengejarku. Aku pasti tampak sangat memalukan di depan Andrew, setelah menciumnya aku jalan dengan adiknya. Ini tidak boleh terjadi.

________________________________________________

xoxo,

Champagne Girl (Part 2)

Aku mulai bersikap aneh di depan Pak Andrew. Aku tidak nyaman dengan semuanya. Aku merasa malu dan bodoh. Aku harus mengambil tindakan. Aku tidak bisa seperti ini terus. Walaupun Pak Andrew tidak pernah membahasnya juga, tapi mungkin juga ini untuk menjaga hubungan kami. Aku sudah mengambil keputusan, aku akan mengundurkan diri. Pak Andrew mempertanyakan pengunduran diriku yang tiba-tiba itu, tentu saja aku sudah memikirkan jawaban dari alasan pengunduruan diriku ini sebelumnya. Semua sudah kuatur. Aku berkata bahwa aku ingin mencoba kesempatan lain dan belajar di bidang lain. Pak Andrew mengatakan bahwa dia bisa menaikkan posisiku, asal aku tidak keluar dari perusahaan. Dia benar-benar menahan diriku di perusahaan. Tapi tidak bisa, keputusanku sudah bulat. Aku akan keluar.

Aku masuk ke perusahaan manufaktur dan menjadi seorang advertising manager. Masih berhubungan dengan advertising dan memang tidak bisa jauh-jauh dari Pak Andrew. Percayakah kalau di perusahaan ini aku bertemu dengan sepupu Pak Andrew? Teman sekantorku, yang bahkan duduknya di depan mejaku persis. Thank God she is a woman. Lauren adalah pribadi yang sangat hangat dan menarik. Umurnya setahun lebih tua dari aku, tapi kami sangat mirip dalam beberapa hal. Kami langsung menjadi akrab hanya dalam hitungan minggu semenjak aku bekerja di sini.

Nah, kalian pasti bertanya-tanya kan jawaban apa yang aku berikan sebagai alasanku meninggalkan Maxcom. Masih menggunakan jurus bicara Pak Andrew, aku meyakinkan perusahaan ini kalau aku ingin lebih mendalami soal advertising bukan hanya sebagai marketing dari perusahaan advertising saja. Aku ingin terjun langsung ke dalam prosesnya dari awal sampai akhir. Aku percaya semua ilmuku di Maxcom akan sangat bermanfaat. Voila! They liked me so much. Apalagi aku jebolan dari Maxcom Enterprise dan mantan didikan dari Pak Andrew Bintoro. Hell to the yeah!

Teleponku bergetar-getar. Aku terbangun. Oh, Lauren.

“Carly! Pasti kamu belum bangun!” teriaknya di telepon. Tidak ada kata-kata dariku, hanya menggumam. “Hey! Wake up! I’ll pick you in an hour!” teriaknya sekali lagi.

Are you crazy?! What time is it?!” teriakku gak kalah heboh. Aku paling benci ketika hari Sabtuku yang sangat berharga diganggu oleh telepon-telepon di pagi hari. I really need sleep.

“This is 11 o’clock for God’s sake! And you promised to accompany me to Barry’s Closet!” Aku terkesiap dan terbangun dalam sekejap. Masih mengerjap-ngerjap dan menggosok-gosok mata. “Carly!!” Lauren berteriak lagi.

“Oke, oke. Lauren, I hear you, honey. Sekarang tutup teleponnya, aku siap-siap dulu, oke? Muach..” Kututup telepon sebelum mendengar Lauren berkicau lebih kencang lagi.

Tampaknya semalam aku bermimpi lagi. Soal ciuman itu. Dalam mimpi ini aku melihat Andrew membalas ciumanku, dia melumat bibirku dengan lembut. Mimpi yang membawaku terbang ke awan, namun menjatuhkanku dengan sangat keras di dunia nyata.

Kami meluncur ke Barry’s Closet, toko kebaya tempat desainer bernama Barry. Barry orang Indonesia yang sekolah mode di Perancis. Of course, a gay. Lauren mencoba kebaya-kebaya itu dan meminta pendapatku. Dia membutuhkan kebaya itu untuk acara pertunangannya dengan Ron, pacar tujuh tahunnya. Hebat. Rekor pacaranku aja baru satu setengah tahun, apa yang mereka lakukan selama tujuh tahun?! Semua kebaya tampak cantik dikenakan Lauren, tapi pilihanku jatuh pada kebaya berwarna salem dengan potongan dada rendah dan cutting yang sempurna untuk bentuk tubuh Lauren. Lauren menyetujui saranku dan dia melakukan fitting untuk kebaya itu. Setelah itu kami meluncur ke mal untuk makan siang sekaligus janjian bertemu Ron. Ron berprofesi sebagai seorang dokter yang umurnya setahun lebih tua dari Lauren. Ia berpenampilan lebih tua daripada yang seharusnya. Tapi tampak sangat serasi dengan Lauren.

“Hey, Chris!” Lauren memeluk pria di hadapannya. “Carly, this is Chris. Chris, Carly.”

“Hello,” kataku menjabat tangan Chris. Wajah yang tidak asing. “Have we ever met before?” tanyaku.

“Yep, di Bali. Aku adiknya Andrew.”

Oh, jangan Andrew lagi please. Lauren melihat perubahan pada wajahku dan mengedipkan matanya padaku. Yeah, she knows about everything, the trip, the kiss, everything. Chris tampak lebih tampan dari terakhir kali aku melihatnya. Penampilannya kali ini lebih santai. Ternyata dia masih kuliah tingkat akhir dan sedang menyelesaikan tugas akhirnya. Dan tinggal di apartemen yang sama dengan Andrew, kamar yang sama. Chris orang yang sangat energik dan supel, mudah mencairkan suasana. Tidak ada masalah ketika harus berbicara atau jalan dengan orang-orang dengan usia yang lebih tua darinya. Chris meminta pin Blackberry Messenger-ku dan nomor ponselku. Dia sedang mendekatiku atau aku cuma kege-eran? Karena pendekatan langsungnya di hari pertama dia bertemu denganku ini benar-benar sangat kentara.

Setiap aku pergi dengan Lauren, selalu ada Chris. He’s like stalking me or something. Dia juga selalu BBM dan telepon aku, sampai aku agak capek menanggepinya. Well, Chris memang sangat asyik diajak bicara, cuma aku jadi sedikit mempertanyakan motifnya mendekatiku.

Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku di kantor. Hampir setiap hari aku terjebak di kantor sampai jam 6. Kantor masih belum memberikanku mobil karena umur kerjaku yang masih baru. Aku terpaksa selalu merepotkan Lauren karena arah rumahnya melewati apartemenku. Tapi hari ini aku agak lebih lembur dari biasanya dan tidak mungkin aku membiarkan Lauren menungguku. Aku pun menyuruhnya untuk pulang duluan. Kantor sudah sangat sepi, tinggal beberapa office boy dan security yang berjaga. Aku keluar dari lift dan berjalan ke pintu utama. Dan yang kulihat adalah sosok Chris yang sedang bersandar di pilar. Aku menganga dan dia tertawa melihatku.

What the hell are you doing here?!” tanyaku kaget. Jujur saja aku kaget melihat sosoknya di depanku. Di kantorku. Oke, jadi setelah dia mengikutiku pergi setiap weekend, sekarang dia mulai berani merambah ke kantorku.

I’m picking you up, Carly. Lauren bilang kamu lembur dan gak akan ada yang nganter kamu pulang. So yeah, here I am.”

“But i didn’t tell her to do that!” Aku akan mencekik Lauren, kataku dalam hati. “And you don’t need to do this, Chris,” lanjutku kembali, berusaha memusatkan perhatian.

Aku memaksa,” kata Chris tegas.

Aku berpikir, dan menimbang-nimbang. “Well, okay,” kataku akhirnya. Aku melihat Chris tertawa lega. “Can we eat first? I’m starving.”

“Everything, Carly.” Chris meraih pundakku dan membimbingku berjalan menuju mobilnya.

Sejak hari itu, Chris selalu menampakkan diri di kantor setiap malam. Dia tahu jadwal pulang kantorku dan setiap aku keluar dari pintu utama, selalu sudah ada sosoknya berdiri di hadapanku. Yeah, it’s Lauren. I’ll kill her.

_______________________________________________

xoxo,

Saturday, September 25, 2010

Champagne Girl (Part 1)

Gak pernah aku bayangkan sebelomnya bahwa seluruh karirku di Maxcom Enterprise ini akan berakhir akibat kebodohanku yang super duper bodoh. Dua tahun terhebat dalam hidupku berakhir karena satu malam bodoh. Can’t even meet him anymore. My boss. I kissed him. In a bar. Damn, seharusnya aku nggak ngambil champagne bodoh itu! I got drunk and it all happened!

“Carly, be ready to our trip”, Pak Andrew mengatakan hal itu padaku di sela-sela makan siang kami bersama staff lainnya.

“Uhm, trip apa Pak?” kataku penuh tanda tanya.

We’re going to Bali tomorrow. Sorry, mendadak. Tapi kita harus menangin tender besok. Kamu harus tampil impressive, as usual.”

Aku tersedak. Oke, bosku emang agak-agak sakit jiwa ya? Kita akan ke Bali, besok, berdua. Dan aku baru dikasih tahu beberapa jam sebelum keberangkatan?! Dan apa yang ada di pikirannya? Berdua?! Okay, jangan salah pikir. I have no intention to chase my boss, he’s great though, but he’s engaged already. Sampai kapanpun gak pernah ada di otakku untuk berbuat yang aneh-aneh sama Pak Andrew, not even a flirt. Well, memang ga bisa dipungkiri kalau Pak Andrew punya daya tarik tersendiri, semua wanita di kantor pun mengakuinya. Penampilannya, pembawaannya, segalanya membuat dia kelihatan charming. Yeah, Mr. Charming, mata kami terpaku kemanapun dia bergerak.

Bali!! Rasanya sudah lama aku nggak pergi berlibur. This is gonna be fun! I finish my job, and I have a little escape! Kami tinggal di hotel berbintang di Ubud. Tempat yang indah dan fasilitas yang menyenangkan. Tiba di Bali kami langsung bekerja, melakukan sedikit research pada perusahaan yang menjadi target kami. Kemudian aku melatih presentasi yang akan aku sampaikan semalaman. Perusahaan di Bali ini, perusahaan ekspor-impor dengan komoditi dan profit yang cukup besar, akan sangat menguntungkan bagi perusahaan kami apabila dapat bekerja sama dengan mereka.

Bangun pagi-pagi di hari kedua, menyiapkan penampilan se-oke mungkin. Okay, i’m ready with the presentation. Presentasi ini tujuannya adalah untuk meyakinkan klien bahwa perusahaan kami adalah perusahaan yang paling tepat untuk diajak bekerja sama, aku menjelaskan cara kerja kami selama ini dan perusahaan mana saja yang telah bekerja sama dengan kami. Impressive, my performance was outstanding. Pak Andrew senyum terhadapku dan mengacungkan jempolnya untukku setelah aku selesai presentasi. Aku tertawa, merasa tersanjung. Okay, aku emang anak emas Pak Andrew, semua orang di kantor pun tahu. Aku yang akan dibiarkan untuk memegang tender-tender dengan perusahaan besar. Sebelumnya, Maxcom Enterprise adalah perusahaan advertising yang cukup terkenal di Jakarta dengan seluruh cerita-cerita hebat di baliknya.

The day after, everything is just perfect. Aku menghabiskan seluruh siang hariku dengan spa di hotel. Rasanya sudah lama sekali tidak memanjakan diri seperti ini. Ponselku berdering-dering menandakan adanya SMS masuk. Pak Andrew, wow.

Carly, mau join saya jalan-jalan? -A.

Pak Andrew mengajakku jalan-jalan? Well, why not? Maybe it’s time to talk about my promotion. Hahaha..

Oke, Pak. Jam berapa saya harus siap? -Carly.

Pukul enam malam Pak Andrew mengetuk pintu kamarku. Aku mengamati lagi penampilanku di cermin. Tidak ada yang salah, semua terlihat pas. Aku memakai celana jeans skinny-ku, dan atasan sedikit loose. Kuikatkan sebuah syal di leherku. Kubuka pintu dan kulihat Pak Andrew di depanku dengan senyumnya yang menawan.

“Udah siap?” Pak Andrew memakai celana panjang jeans yang sangat jarang kulihat. Masih dengan sepatu vantovelnya, tapi kali ini dia memakai kaos berleher V dan jas yang semi formal.

Yes, sir.” Kututup pintu kamarku dan kami melangkah keluar. Ternyata kami tidak pergi berdua, kami pergi dengan adik Pak Andrew yang kebetulan lagi liburan di Bali juga. Cowok, dengan jarak umur yang cukup jauh dengan Pak Andrew, dia 21 tahun dan Pak Andrew 30 tahun. Chris namanya. Cukup tampan walau tidak setampan Pak Andrew, dan cukup matang untuk anak seusianya. Kami pergi makan malam di Jimbaran, kemudian berjalan-jalan di sekitaran Kuta dan menghabiskan malam di bar.

“Carly, penampilan kamu kemarin luar biasa hebat.”

Thanks, Pak. Berkat ilmu dari Bapak juga kan?” kami tertawa bersama-sama.

I buy you a champagne, allright?” Aku adalah tipe orang yang nggak bisa minum. Tapi kalau cuma segelas champagne seharusnya nggak akan kenapa-kenapa kan? Singkat cerita, kami pun bercerita dan tertawa bersama-sama. Membicarakan kehidupan di kantor yang tidak ada habisnya. Dan champagne yang seharusnya hanya segelas itu menjadi bergelas-gelas. Musik di bar pun sangat mendukung suasana romantis yang terjadi. Wait, romantic? Did I just say that?! It must be something wrong with my head.

Wanna dance?” Pak Andrew mengulurkan tangannya. Kepalaku sudah cukup pusing, tapi aku masih bisa melihat wajah rupawan Pak Andrew di tengah keremang-remangan ini. Kusambut tangan Pak Andrew. Hangat. Siapapun tunangan Pak Andrew, Ally atau siapa itu namanya, pasti sangat beruntung mendapatkan pria seperti Pak Andrew.

Kukalungkan tanganku di leher Pak Andrew, dan Pak Andrew memegang pinggangku. Kami sangat dekat. Seharusnya semua menjadi lebih romantis, tapi champagne idiot itu membuatku meracau gak jelas. Bodohnya hal yang aku bicarakan adalah orang yang keberadaanya hanya beberapa sentimeter di depanku, entah aku sadar atau tidak. Aku mulai meracau tentang bagaimana pengaruhnya di kantor, khususnya bagi wanita. Bagaimana kami terpukau dengan pembawaannya. Aku bisa melihat Pak Andrew tertawa di hadapanku.

“Carly, kamu mulai mabuk. Lebih baik kita pulang sekarang.” Pak Andrew membisikkan kata-kata itu di telingaku. Aku terkesiap, aku merinding. Next time i know, bibirku sudah mendarat di bibirnya. Dan entah mengapa aku tidak kuasa melepasnya. Pak Andrew memegang pipiku dan menarik wajahku. Memanggil namaku, dan sepertinya tidak kujawab karena aku sudah semakin ngelantur.

Aku membuka mataku. Kepalaku berat. Perutku mual dan lapar. Oh shit, what time is it?! Aku terkesiap kaget melihat jam menunjukkan angka 11. Penerbanganku pukul 3 dan aku belum siap-siap sama sekali. Aku bergegas ke kamar mandi dan terkaget-kaget melihat pantulanku di cermin. Oke, ini mengerikan, rambutku sangat berantakan. Aku sudah tidak memakai syal. Oke, dimana syal itu? Syal yang sama sekali tidak menutup diriku dari dinginnya angin malam, syal bodoh. Kucari-cari syal itu kesana kemari dan tetap tidak menemukannya. Kuputuskan untuk melupakan syal itu dan segera membersihkan diri. Berendam di bathtub dan mulai menyatukan potongan-potongan kejadian semalam. Aku tidak ingat seutuhnya, tapi aku yakin sekali aku menciumnya. Crap! Dan aku muntah, bener nggak? Oh my God, ini benar-benar memalukan. Gara-gara champagne sialan itu! Nggak seharusnya aku coba-coba menenggaknya, satu gelas pun nggak! Aku mulai kebingungan mencari cara untuk tidak bertingkah lebih bodoh lagi. Aku harus pura-pura lupa. Padahal nanti aku akan berada di pesawat bersama Pak Andrew! Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

Kami berada di pesawat, berdua. Aku diam, aku benar-benar tidak bisa berkutik. Wajahku menunduk membaca buku. Aku tidak bisa menatap wajah Pak Andrew yang sedang tidur.

“Carly...” Pak Andrew mengganggu lamunanku. Of course, i’m not really reading the book. Aku masih berusaha memikirkan arah pembicaraanku. Haruskah aku menyinggung soal semalam? Aku menengok ke arah Pak Andrew. “Seharusnya kamu bilang sama saya kalau kamu nggak bisa minum,” Pak Andrew melanjutkan kata-katanya. Crap, ini dia. Topik ini yang sudah kutunggu-tunggu.

“Maaf, Pak. Maaf kalau saya semalam merepotkan Bapak.”

“Nggak, Carly. Semalam sangat menyenangkan. Nggak nyangka bakal ngelihat kamu mabuk.” Pak Andrew tersenyum.

Apa? Menyenangkan? Apa Pak Andrew nggak tahu aku mau mati memikirkan tentang kejadian semalam?! Menyenangkan dari mana?! Tapi Pak Andrew nggak menyinggung apa-apa soal ciuman itu. Apa Pak Andrew juga menikmatinya? Ah, pikiran bodoh apa ini? Carly, he’s not available! Go find another man!

_________________________________________________

xoxo,